Monday, January 25, 2021

Bidang Manajemen Bisnis

7 Bidang Manajemen Bisnis yang Harus Anda Ketahui

7 Bidang manajemen bisnis yang harus Anda ketahui. Dalam dunia bisnis selalu berkaitan dengan ilmu manajemen, dapat dikatakan dunia bisnis tidak dapat dipisahkan dari ilmu manajemen. Namun, tahukah Anda, apa yang dimaksud dengan ilmu manajemen? 

Bagi Anda yang memiliki latar belakang pendidikan manajemen mungkin tidak asing lagi dengan ilmu manajemen tetapi bagi Anda yang tidak memilikinya akan mengalami sedikit kesulitan bagaimana memahami ilmu manajemen.

Ilmu manajemen jika diartikan secara etimologis merupakan ilmu yang mengatur dan melaksanakan segala sesuatu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Ilmu manajemen ini biasa dikenal dengan kata manajemen saja.

Manajemen selalu berkaitan dengan dunia bisnis sehingga banyak usahawan dalam menjalankan bisnisnya berpegang teguh kepada ilmu manajemen ini. 


Apa itu Manajemen?

Manajemen adalah suatu ilmu atau seni mengatur. Banyak para ahli mendefinisikan manajemen. Adapun pengertian manajemen menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut.

Pengertian manajemen menurut Koontz dan Cyril O’donnel merupakan usaha yang dilakukan dengan cara melakukan koordinasi dengan orang lain untuk melakukan kegiatan dalam usaha mencapai tujuan yang telah ditetapkan

Menurut Henry Fayol, manajemen merupakan ilmu yang memberikan ide atau gagasan berdasarkan kegiatan yang berpedoman kepada 5 kegiatan utama manajemen, yaitu merencanakan, mengarahkan, mengorganisasi, melakukan koordinasi serta mengendalikan demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan bersama.

Pengertian manajemen menurut Ricky W. Griffin adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian dan pengontrolan setiap sumber daya manusia yang tersedia untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien.

Efektif yang dimaksud adalah tujuan bisa dicapai sesuai dengan rencana yang ada sedangkan efisien berarti dilaksanakan secara benar dan terorganisasi berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan bersama.


Nah, berdasarkan pengertian yang dikemukakan para ahli tersebut, manajemen dapat diartikan sebagai ilmu yang mengatur, melaksanakan dan mengelola segala sesuatu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Jadi, manajemen bisnis merupakan ilmu yang mengatur, melaksanakan, mengelola  serta menjalankan bisnis dengan benar dan tepat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama.


Apa Saja Fungsi Manajemen?

Seperti ilmu lainnya, manajemen juga memiliki fungsi dalam mengatur bisnis yang akan dijalankan oleh pelaku usaha. Apa saja fungsi manajemen? Berikut adalah 5 fungsi manajemen yang dapat diterapkan dalam menjalankan bisnis atau usaha.

  1. Perencanaan (Planning)
  2. Pengorganisasian (Organizing)
  3. Pengarahan (Directing)
  4. Pengendalian (Controlling)
  5. Pengevaluasian (Evaluating)


Setelah Anda mengetahui 5 fungsi manajemen, Anda juga perlu mengetahui 7 bidang manajemen bisnis dalam menjalankan bisnis. Tujuan dibentuknya bidang manajemen bisnis ini adalah agar fungsi manajemen dapat terlaksana dengan baik sesuai tujuan manajemen bersama.

Dalam hal ini bidang manajemen bisnis dapat dikelompokkan menjadi 7 bidang, antara lain sebagai berikut.


1. Manajemen Sumber Daya Manusia

Manajemen sumber daya manusia dapat disebut juga dengan manajemen personalia. Manajemen sumber daya manusia meupakan kegiatan yang berkaitan dengan pengaturan dan pengelolaan sumber daya manusia (SDM) dalam suatu perusahaan.

Kegiatan sumber daya manusia ini terdiri atas perekrutan karyawan yang dibutuhkan oleh perusahaan, peningkatan dan pengembangan mutu karyawan, sistem upah dan gaji serta upaya pemeliharaan sumber daya manusia sesuai dengan visi dan misi perusahaan yang telah ditetapkan.


2. Manajemen Produksi

Manajemen produksi merupakan kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan faktor produksi dalam usaha menghasilkan produk yang berkualitas sesuai dengan tujuan perusahaan. Adapun kegiatan yang termasuk dalam manajemen produksi adalah sebagai berikut.

  • Merencanakan desain produksi yang akan dibuat.
  • Pengaturan dan pengelolaan produk, kegiatan ini berkenaan dengan tersedianya bahan baku produk, mutu produk serta jumlah produk yang akan diproduksi.
  • Pengendalian dan pengawasan proses produksi sesuai dengan prosedur yang berlaku di perusahaan.
  • Tujuan manajemen produksi adalah meminimalisir terjadinya penyimpangan dalam proses produksi sehingga proses produksi dapat berjalan dengan baik dan lancar sesuai tujuan perusahaan. Dengan adanya manajemen produksi diharapkan tidak terjadi kesalahan dalam proses produksi.


3. Manajemen Keuangan

Manajemen keuangan merupakan kegiatan dalam suatu perusahaan atau organisasi yang berkaitan erat dengan pengaturan dan pengelolaan cash flow. Adapun kegiatan yang termasuk dalam manajemen keuangan adalah sebagai berikut.

  • Mengatur dan mengelola aliran uang masuk dan keluar yang ada di perusahaan.
  • Melakukan investasi atau mencari suntikan dana dengan cara melakukan kerja sama dengan pihak-pihak terkait.
  • Membuat kebijakan bersama atas pembagian dividen dan laba yang diperoleh perusahaan.
  • Mengontrol dan melakukan evaluasi terhadap laporan keuangan perusahaan.
  • Setiap bidang manajemen bisnis yang dibentuk dalam setiap usaha memiliki tujuan yang berbeda-beda, seperti halnya tujuan manajemen keuangan.


Adapun tujuan dibentuknya manajemen keuangan adalah sebagai berikut.

  • Mengontrol pengeluaran dana dalam perusahaan, hal ini agar pengeluaran uang dapat efektif dan efisien.
  • Meningkatkan pemasukan dana dalam perusahaan. Jika pemasukan dalam perusahaan meningkat maka perusahaan mendapatkan keuntungan atau laba yang besar. Hal itu merupakan prestasi bagi perusahaan.
  • Mengontrol pengelolaan keuangan perusahaan dengan baik dan benar. Hal ini bertujuan agar perusahaan tidak mengalami kerugian sehingga tujuan perusahaan tercapai.


4. Manajemen Pemasaran

Dalam suatu perusahan terdapat manajemen pemasaran. Nah, apa yang dimaksud dengan manajemen pemasaran? Manajemen pemasaran merupakan kegiatan yang dilakukan berkaitan dengan perencanaan tujuan dan kegiatan serta penentuan target yang ingin dicapai di bidang memasarkan produk.

Kegiatan manajemen pemasaran ini fokus pada bagaimana produk yang dihasilkan perusahaan dapat diminati konsumen sehingga produk diterima di pasar. Apa saja kegiatan yang mendukung pemasaran? Simak penjelasan berikut.

Riset pasar, kegiatan ini dilakukan untuk mendapatkan hasil apakah produk yang diproduksi perusahaan diminati konsumen atau tidak.

Strategi pemasaran, kegiatan ini berkaitan dengan strategi yang harus dilakukan agar produk yang diluncurkan dapat diterima di pasar dan diminati oleh konsumen.

Promosi produk merupakan kegiatan yang berkaitan dengan pengenalan produk kepada konsumen atau pasar. Artinya manajemen pemasaran mengenalkan produk yang diluncurkan ke konsumen dengan cara iklan produk, menyebarkan brosur, atau dapat juga campaign produk menggunakan media sosial.

Melakukan analisis pasar dan kompetitor. Analisis pasar ini agak rumit dilakukan karena perusahaan Anda harus menjaga kualitas produk Anda lebih unggul dari kompetitor.

Berdasarkan hal tersebut di atas tujuan dari manajemen pemasaran adalah mengenalkan atau mempromosikan produk ke pasar atau seluruh masyarakat untuk meningkatkan kuantitas penjualan agar peningkatan pendapatan perusahaan dapat tercapai.


5. Manajemen Informasi

Manajemen informasi merupakan sistem manajemen yang berhubungan dengan kontrol internal dalam menjalankan bisnis. Adapun cakupan atau tanggung jawab manajemen informasi adalah sebagai penyedia segala macam informasi yang mendukung perkembangan dan kemajuan perusahaan.

Manajemen informasi ini dianggap penting bagi perkembangan perusahaan karena berkaitan erat dengan pengambilan keputusan di perusahaan.

Sumber daya manusia yang mendukung manajemen informasi harus memiliki hal-hal sebagai berikut.

  • Kemampuan komunikasi yang baik jika memungkinkan dapat berbahasa asing.
  • Kemampuan merencanakan program bisnis yang mendukung kemajuan perusahaan.
  • Kemampuan di bidang informasi digital. Hal ini dirasa penting karena saat ini merupakan revolusi digital yang mana masyarakat memiliki trend bisnis online. Kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan dalam algoritma, bahasa pemrograman, penguasaan database serta paham SEO.


6. Manajemen Strategis

Manajemen strategis merupakan ilmu manajemen yang berkaitan erat dengan penyusunan, penerapan dan pengevaluasian kegiatan-kegiatan dalam perusahaan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Tanggung jawab manajemen strategis ini adalah sebagai berikut.

  • Menetapkan tujuan perusahaan berdasarkan kesepakatan bersama dan dijalankan bersama.
  • Merencanakan program dan kebijakan perusahaan yang tepat guna demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.
  • Melakukan alokasi sumber daya manusia dan modal berdasarkan program dan kebijakan yang telah direncanakan.
  • Mengembangkan kebijakan untuk kemajuan perusahaan.


7. Manajemen Administrasi

Manajemen administrasi dalam dunia bisnis berkaitan dengan akuntansi. Kegiatan manajemen administrasi ini adalah memberikan informasi kepada bidang-bidang manajemen lainnya dalam usaha menjalankan program-program serta kebijakan perusahaan. Adapun kegiatan manajemen administrasi adalah sebagai berikut.

  • Melakukan pengumpulan berbagai macam data yang dibutuhkan oleh bidang manajemen lainnya.
  • Melakukan proses pencatatan data.
  • Melakukan pengelompokkan data yang dibutuhkan oleh bidang manajemen lainnya.
  • Melakukan penafsiran laporan administrasi.
  • Melakukan pelaporan administrasi bahkan jika dibutuhkan membantu manajemen keuangan untuk membuat laporan finansial.


Penutup

Hal-hal di atas merupakan cakupan manajemen bisnis dan 7 bidang manajemen untuk menjalankan bisnis. Manajemen bisnis sangat dibutuhkan dalam kelangsungan perusahaan.


Sumber :

https://www.folderbisnis.com/bidang-manajemen-bisnis

Monday, January 18, 2021

Objectives and Key Results

Kenali Apa itu OKR yang Membuat Google Semaju Sekarang

Dalam mengukur performa kerja, objectives and key results atau OKR adalah satu cara yang saat ini marak digunakan. Secara umum, sebenarnya terdapat berbagai metode yang bisa digunakan. Salah satu yang lazim digunakan oleh banyak perusahaan adalah KPI atau key performance indicator.

Namun, seiring dengan berkembangnya zaman, ditemukan lagi metode lain yang dapat meningkatkan performa karyawan, juga mengembangkan bisnis perusahaan.

Metode OKR ini mungkin masih asing didengar olehmu. Namun, sebenarnya metode ini sudah digunakan oleh beberapa startup khususnya di bidang teknologi, dan mulai diadopsi oleh beberapa startup lainnya.


Pengertian OKR

Mengutip dari Whatmatters, OKR adalah suatu cara yang dibuat untuk tim dan individu, dengan target yang menantang dan ambisius, namun menggunakan cara yang terukur. OKR juga dapat melihat progres kinerja seseorang dengan cukup fleksibel.

Tujuan dari dijadikannya OKR sebagai metode pengukuran kinerja oleh perusahaan adalah karena OKR memungkinkan perusahaan membuat target yang cukup ambisius, namun dapat terukur segala pelaksanaannya. 

Dalam OKR, terdapat dua unsur, yaitu objective, dan key result. Objective, bisa dibilang sebagai target utama suatu kompetensi yang akan dicapai oleh perusahaan, tim, atau orang tersebut.

Objective adalah sesuatu yang bersifat ambisius, dan cenderung kualitatif. Oleh karena itu, dalam mencapainya, diperlukan tindakan yang terukur dan kuantitatif. Inilah yang kemudian disebut key result.

Setelah objective dari suatu kompetensi ditentukan, pimpinan dan tim haruslah dapat menentukan key result seperti apa yang akan dilakukan untuk mencapai objective tersebut. Hal ini membuat key result haruslah sesuatu yang dapat terukur, dan memiliki rentang waktu tertentu (time bound).

Dalam praktiknya, OKR dipilih karena dapat mengukur kinerja perusahaan, pimpinan, hingga staf di bawahnya.

Idealnya pula, OKR dari tiap tim atau divisi adalah turunan dari OKR pimpinan, dan OKR pimpinan adalah turunan dari OKR perusahaan. Sederhananya, objective tiap divisi/tim adalah key result dari pimpinannya.

Sejarah Awal OKR

Sebenarnya, OKR memiliki sejarah yang cukup panjang. Namun, penerapannya baru mulai banyak digunakan sekitar satu hingga dua dekade terakhir.

Awalnya, metode OKR ini dikembangkan oleh Peter Drucker di tahun 1954. Pada saat itu, metode ini disebut dengan management by objective.

Kemudian, pada tahun 1968, Andy Grove membangun perusahaan teknologi bernama Intel. Pada saat itu, Andy Grove mengadopsi penggunaan MBO dan memodifikasinya menjadi OKR seperti yang kita kenal saat ini.

Namun, pada saat itu penggunaan OKR masih eksklusif di lingkungan Intel saja. Hingga kemudian pada 1974, seorang bernama John Doerr bergabung dengan Intel. Di sana, ia mempelajari mengenai metode OKR ini.

Perjalanan tak berhenti sampai di sini, pada 1999, John Doerr yang pada saat itu bekerja pada sebuah venture capitalist yang secara kebetulan berinvestasi di Google.

John Doerr saat itu bertanggung jawab sebagai konsultan. Kesempatan inilah yang digunakan John Doerr untuk menyampaikan mengenai OKR kepada kedua pendiri Google, Larry Page dan Sergey Brin. Sejak saat itu, OKR pun digunakan oleh Google dan tersebar luas hingga sekarang.

Di Indonesia sendiri, penggunaan OKR masih menjadi barang baru. Beberapa startup-lah yang menjadi pelopor penggunaan metode OKR ini. Gojek merupakan salah satu yang mempopulerkan OKR sebagai metode penilaian kinerja.

Saat ini, sudah mulai banyak startup yang menggunakan OKR, berkaca dari kesuksesan Google hingga Gojek yang dapat berekspansi menjadi sebesar saat ini. 


Contoh OKR

Penggunaan OKR dalam perusahaan dapat berjalan efektif ketika dari unsur pimpinan sudah menerapkan OKR yang jelas pula. Seperti disebutkan sebelumnya, OKR ini bersifat menurun dari unsur pimpinan ke staf.

Selain dapat mengembangkan perusahaan, hal ini juga dapat meningkatkan performa karyawan jauh lebih baik lagi. Dari hal tersebut, berikut adalah contoh OKR yang bisa diterapkan oleh perusahaan:

objective perusahaan: menjadikan perusahaan berskala global

key result:

  •  mendapatkan penjualan sebanyak 100 miliar per tahun
  •  mendapatkan kerjasama dengan 1.000 klien baru dalam setahun
  •  membuka 7 cabang baru di luar negeri dalam setahun
  •  mengurangi kesalahan produksi sebesar 30%

Dari poin-poin key result diatas, dapat diturunkan menjadi objective bagi tiap-tiap divisi yang akan dicapai dengan key result tertentu, seperti:

objective divisi business development: mendapatkan kerjasama dengan 300 klien baru dalam setahun

key result:

  •  menghubungi 100 calon klien tiap minggunya
  •  melakukan pitching dengan calon klien sebanyak 10 dalam tiap minggu

Begitu seterusnya hingga pada level personal. Karena objective yang diberikan bersifat ambisius, maka memungkinkan perkembangan perusahaan hingga personal menjadi jauh lebih baik.


Keuntungan Penggunaan OKR

Selain beberapa kelebihan yang ditunjukan di atas, menurut Workfront, terdapat beberapa hal lain keuntungan dari penggunaan OKR oleh perusahaan, di antaranya adalah:


1. Menyatukan perusahaan 

Karena OKR bersifat menurun dan saling terkait dengan antar divisinya, maka hal ini dapat menyatukan perusahaan. Komunikasi antar divisi semakin terjalin, serta dapat meminimalisir adanya ego dari tiap divisi.


2. Karyawan dapat bekerja lebih jelas dan fokus

Penggunaan OKR juga menguntungkan bagi produktivitas karyawan. Dengan adanya OKR, apa yang harus dikerjakan oleh karyawan akan lebih jelas, dan ini dapat membuat karyawan lebih fokus dalam bekerja. 


3. Transparan

OKR juga menunjukkan keterbukaan terhadap kinerja antar karyawan, bahkan pimpinannya. Dengan begini, maka sesama karyawan akan dapat lebih mudah berkolaborasi untuk hasil yang maksimal.


4. Mempercepat hasil

Dengan adanya transparansi, akan lebih mudah untuk memonitor kinerja. Dengan karyawan yang lebih fokus serta kinerja yang meningkat, maka dapat mempercepat perusahaan mencapai hasil yang diinginkan.


Ketika kamu menggunakan OKR, ada beberapa pertanyaan dasar yang harus anda tanyakan pada diri kamu sendiri:


Where do you need to go?

Kamu harus mengetahui dengan jelas dan sejelas-jelasnya goals yang kamu ingin capai itu seperti apa. Goal yang kamu capai juga harus sangat jelas.


How will you know you’re there?

Kamu harus mengetahui kondisi dimana kamu sudah mencapai goals. Hal ini sangat berguna sekali dalam proses review Key Result.


What will you do to get there?

Tugas apa saja yang akan anda lakukan untuk mencapai tujuan anda.


Kita coba simulasikan:

Where do you need to go?

Meningkatkan Kepuasan Pelanggan


How will you know you’re there?

Meningkatkan NPS dari 70 ke 80


What will you do to get there?

Menambahkan fitur chatting pada aplikasi


KPI

KPI adalah singkatan dari Key Performance Indicator. Bagaimana sih cara kerja KPI ini ? dengan cara menentukan proses/aktifitas yang bisa mendukung sebuah goal. Jika proses yang kita lakukan itu benar, maka goal diharapkan bisa tercapai juga.


Para staff mendapatkan tugas dari para managerial sesuai OKR. Para staff memberikan tugas kepada para staff yang nantinya akan dievaluasi untuk menilai performa kinerja.


Kita coba simulasikan:

Sales

  • Customer Lifetime Value
  • Trial-to-Customer Conversion Rate

Support

  • Tickets per Month
  • Average Reply Time

Marketing

  • Web traffic
  • Visitor-to-Signup Conversion Rate


Kesimpulan:

Sebenarnya kita bisa menggabungkan kedua buah tools ini. Mengapa begitu, dengan menggunakan OKR, kamu akan lebih mudah dan lebih jelas dalam menuju goals kamu. Dan dengan dibantu KPI, kamu dapat mempermudah memantau aktifitas-aktifitas yang dilakukan.

Untuk mencapai tujuan dan performa 100%,  antara penerapan OKR dan KPI harus sejalan, Dan sama-sama saling bekerja sama untuk bisa mencapai tujuan dan performa yang baik.

Itulah mengapa kamu harus menerapkan kedua buah tools tersebut untuk terus meningkatkan performa kinerja. Maka dari itu ayo mencoba untuk untuk menerapkan sistem penilaian Objective & key Result


Bagaimana menyusun OKR dengan tepat?

Metode OKR dapat berjalan efektik jika unsur pimpinan sudah menerapkan OKR dengan jelas. Berikut adalah langkah-langkah untuk menyusun OKR:

  • Menentukan timeline
  • Memilih 3-5 objective
  • Menentukan 2-5 key results per objective dan skala penilaian
  • Tentukan tool yang akan digunakan

Untuk mengukur dan mengetahui ketercapaian OKR, diperlukan sebuah tool untuk memantau dan mengelolanya. Tool yang digunakan beragam, mulai dari spreadsheet hingga aplikasi atau software. Pastikan tool tersebut dapat diakses dengan mudah oleh semua orang.


Menyusun OKR secara bertahap

Seperti yang telah disebutkan di atas, OKR menurun mulai dari perusahaan hingga perorangan. Untuk itu, penyusunan OKR juga harus dilakukan bertahap dengan dimulai dari perusahaan.


Dua pertanyaan utama yang menjadi acuan yaitu:

  • Apa tujuan yang ingin dicapai?
  • Bagaimana cara mencapai tujuan tersebut?
  • Penyusunan OKR sebaiknya melibatkan semua pihak, bukan paksaan dari atasan saja.


Mengevaluasi OKR

OKR harus dievaluasi untuk mengetahui sejauh mana ketercapaiannya. Biasanya, pencapaian yang sukses berada di rentang 60-70%. Hal ini sesuai dengan konsep stretch goals seperti yang telah disebut sebelumnya.


Tujuan OKR adalah..

Agility

Tujuan dengan rentang waktu yang lebih pendek memungkinkan penyesuaian yang lebih cepat dan adaptasi yang lebih baik untuk berubah, meningkatkan inovasi, dan mengurangi risiko.


Mempercepat proses penentuan tujuan

Metode OKR yang lebih simpel membuat proses penentuan tujuan menjadi lebih cepat dan mudah. Hal ini dapat mengurangi waktu dan sumber daya yang dihabiskan dalam menentukan tujuan secara drastis


Komunikasi yang lebih jelas

Transparansi dan kesederhanaan OKR memungkinkan tim untuk memahami tujuan dan prioritas perusahaan serta bagaimana tiap individu dapat berkontribusi dalam mencapainya.


Menyatukan perusahaan dan meningkatkan kerja sama antar tim

OKR bersifat menurun dan saling terkait antar tim. Hal ini dapat menyatukan perusahaan dan meningkatkan kerja sama antar tim yang berbeda. Komunikasi dapat terjalin lebih baik dan meminimalisir adanya ego tiap tim.


Meningkatkan fokus dan disiplin

Tujuan yang lebih singkat dapat meningkatkan fokus perusahaan dan lebih disiplin dalam berusaha dan inisiatif. Tim menerima arahan dengan jelas dan bebas dalam menentukan bagaimana mencapai OKR mereka. Hal ini membuat mereka lebih bertanggung jawab dengan tujuan mereka.


OKR adalah metode yang digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan selain KPI. Apa pun metode yang digunakan, salah satu yang penting yang tidak boleh dilupakan oleh bisnis adalah pelanggan. Tanpa hubungan yang baik dengan pelanggan, perusahaan tidak akan bertahan. Pastikan Anda menggunakan software CRM untuk meningkatkan layanan pelanggan dan penjualan Anda.


Sumber :

https://glints.com/id/lowongan/okr-adalah/#.YAZ-vegzbIU

https://www.jagoanhosting.com/blog/pernah-dengar-okr-vs-kpi-ini-dia-penjelasannya/

https://www.qontak.com/blog/apakah-okr-adalah-kpi-apa-bedanya/

Thursday, January 14, 2021

Ekonomi Teknik

Asal Mula Ekonomi Teknik

Bidang ini pertama kali dirintis pada akhir abad ke-19 oleh Arthur M. Wellington, seorang insinyur sipil bidang keahlian khususnya adalah bangunan jalan kereta api di Amerika Serikat. Arthur menekankan aspek keuangan secara matematik untuk membuat pertimbangan dan perbandingan biaya dalam kontribusi ekonomi teknik.

Di tahun 1930, Eugene Grant menerbitkan edisi pertama dari buku teksnya. Ini merupakan tonggak sejarah perkembangan ekonomi teknik seperti kita ketahui saat ini. Ia menekankan pengembangan sebuah titik pandang ekonomi dalam engineering.

Pada tahun 1942 Woods dan De Garmo menulis edisi pertama dari buku yang berjudul “Engineering Economy”.

Ekonomi teknik merupakan ilmu yang memuat tentang cara membuat pertimbangan dalam menyelesaikan suatu masalah dalam bidang keteknikan dengan alternatif yang ada berdasar faktor-faktor dan kriteria ekonomi. Dengan mempelajari mata kuliah ini diharapkan seorang engineer dapat mengambil keputusan terbaik dari banyak alternatif yang ada.

Keterbatasan dari sumber daya (manusia, material, uang, mesin, kesempatan,dll) membuat munculnya berbagai alternatif. Berbagai alternatif tersebut memerlukan suatu perhitungan eknomi dan proses analisa teknik agar memperoleh pilihan yang terbaik untuk memecahkan berbagai macam masalah yang muncul. Layaknya ketika membandingkan berbagai alternatif rancangan, membuat keputusan dalam investasi modal, mengevaluasi kesempatan finansial dll. Konsekuensi terhadap hasil keputusan biasanya berdampak jauh ke masa yang akan datang, yang konsekuensinya itu tidak bisa diketahui secara pasti , merupakan pengambilan keputusan dibawah ketidakpastian.

Sehingga penting mengetahui:

  • Dugaan kondisi masa yang akan datang
  • Perkembangan kemajuan teknologi
  • Sinergi antara proyek-proyek yang didanai
  • Dan Lain-Lain.

Masing – masing alternatif memiliki keuntungan dan kerugian yang berbeda-beda jenis dan jumlahnya. Sehingga meski dengan berbagai rancangan prediksi masuk akal sekalipun, terkadang keputusan yang diambil dapat berbeda dengan kenyataan yang ada. Hal ini dikenal menjadi RISIKO. Dalam pengambilan keputusannya yang berdasar faktor-faktor (parameter) tertentu yang tidak diketahui dengan pasti mengharuskan kita menganalisa sebesara besar pengaruh faktor-faktor tersebut saling mempengaruhinya, yang dikenal analisis SENSITIVITAS.


Ekonomi teknik adalah penentuan faktor-faktor dan kriteria ekonomi yang digunakan ketika satu atau lebih alternatif dipertimbangkan untuk dipilih dalam menyelesaikan suatu masalah di bidang teknik. Bisa juga dikatakan bahwa ekonomi teknik adalah sekumpulan teknik matematika yang menyederhanakan perbandingan ekonomi dalam suatu kasus di bidang teknik. Ilmu ekonomi tidak pernah lepas dari ilmu teknik, terutama dalam perancangan dan penerapannya di masyarakat. Dalam hal tersebut, selalu ada beberapa alternatif dalam pelaksanaannya yang masing-masing alternatif memiliki keuntungan dan kerugian yang berbeda-beda jenis dan jumlahnya. Namun penyelesaian masalah tersebut selalu memiliki kriteria ekonomi, dan kriteria tersebut digunakan untuk memilih satu dari banyak alternatif yang tersedia tersebut.

Misal, dalam penerapan mekanisasi di suatu lahan perkebunan tebu, ada banyak alternatif yang tersedia. Apakah penerapan mekanisasinya secara menyeluruh atau hanya sebagian saja (misalnya hanya pada bagian permesinan, irigasi, atau sistem manajemennya saja), dan dana yang tersedia terbatas. Dan mekanisasi yang diterapkan itu harus memberikan tambahan profit yang sebesar-besarnya bagi perkebunan tersebut. Jika perkebunan menetapkan untuk memilih mekanisasi permesinannya saja karena dianggap dapat meningkatkan efisiensi kerja lebih besar, maka muncul alternatif lagi, apakah perkebunan akan menerapkan permesinan di fasilitas pengolahan batang tebu, pengolahan lahan, atau pemanenan. Bahkan jika sudah ditetapkan demikian, perkebunan masih harus memilih tipe mesin apa yang akan dibeli karena menyangkut daya tahan, kinerja mesin, dan kesesuaian dengan perkebunan tersebut. Semua itu harus diperhitungkan secara ekonomi dan matematis dengan tujuan untuk mendapatkan hasil dan keuntungan yang sebesar-besarnya, atau kerugian yang sekecil-kecilnya.

Tahapan analisis ekonomi teknik:

  • Definisikan masalah dan tujuannya
  • Mengumpulkan informasi yang relevan terkait kasus yang sedang dipelajari
  • Memunculkan alternatif-alternatif
  • Evaluasi masing-masing alternatif
  • Penentuan alternatif terbaik dengan beberapa kriteria
  • Menerapkan hasilnya dan memantau kerjanya

Dalam mengevaluasi beberapa alternatif yang tersedia, ekonomi teknik biasanya mempertimbangkan nilai uang terhadap waktu, estimasi pendapatan dan biaya, strategi keuangan, inflasi, depresiasi, ketidakpastian, pajak, undang-undang kebijakan, periode perencanaan, tingkat bunga modal, perhitungan nilai dan harga, hingga rate of return. Rate of return adalah seberapa besar tingkat pengembalian biaya setelah alternatif dilaksanakan.


Sumber :

https://id.wikipedia.org/wiki/Ekonomi_teknik

https://anditacahyakemuning.wordpress.com/2017/10/23/pengenalan-ekonomi-teknik/

Wednesday, January 6, 2021

Feasibility Study

Konsultan Feasibility Study: Pengertian & Peranannya

Bagi Anda yang ingin membuka sebuah usaha dalam bidang manufacture, trading, jasa dan usaha lainnya, maka Anda harus melakukan feasibility study atau study kelayakan. Dengan dilakukannya feasibility study ini, maka dapat membantu mencegah terjadinya kerugian yang bisa menimpa usaha Anda. 

Selain itu, dengan melakukan feasibility study ini, maka akan diperoleh gambaran secara menyeluruh mengenai kelayakan sebuah usaha tersebut dijalankan. Baik ditinjau dari segi manajemen organisasinya, manajemen keuangan, manajemen sumber daya manusia, marketing dan akuntansi. 

Dalam melakukan feasibility study ini, maka sebaiknya Anda menggunakan jasa konsultan feasibility study.


Pengertian Studi Kelayakan

Bagi Anda yang belum memahami tentang study kelayakan atau feasibilty study, maka perlu mengetahui pengertian feasibility study terlebih dahulu sebelum mengetahui secara lebih jelas peran konsultan faesibility study. 

Feasibility study merupakan sebuah analisis yang dilakukan terhadap vaibility suatu ide. Fokus utama dari feasibility study adalah untuk menjawab pertanyaan penting mengenai ide proyek serta prosesnya.

Oleh karena itu dari dilakukannya feasibility study akan diketahui lebih awal jika sebuah ide tidak dapat dikerjakan sesuai dengan harapan, maka sebaiknya dapat dilakukan pencegahan penggunaan waktu, uang serta sumber daya yang akan sia-sia. 

Hal ini tentu saja dapat mencegah proyek mengalami kerugian.

Perlu diketahui pula bahwa feasibility usaha berbeda dengan business plan sehingga keduanya saling sering disalah artikan. Feasibility study memiliki fungsi untuk investigasi, berbeda halnya dengan business plan yang lebih kepada perencanaan yang berupa langkah-langkah yang dibutuhkan untuk mewujudkan sebuah proposal dari sebuah ide hingga menjadi proyek. 

Feasibility study dapat memberikan beberapa alternatif, namun business plan hanya berisi satu alternatif saja.


Peran Konsultan Feasibility Study

Agar sebuah proyek dalam berjalan dengan sukses, maka dibutuhkan analisis mengenai kemampuan penyelesaian proyek tersebut sesuai dengan pertimbangan ekonomi, hukum, penjadwalan, teknologi dan faktor lain. 

Tak hanya berharap pada hal-hal yang terbaik dari sebuah proyek, maka sebaiknya dilakukan study kelayakan atau feasibility study sehingga memungkinkan manajer proyek agar mampu melakukan penyelidikan terhadap hasil positif serta negatif proyek sebelum dilakukannya investasi.

Untuk lebih jelasnya mengenai peran konsultan feasibility study, maka akan diberikan contoh sederhana yang mudah untuk dipahami. Contoh tersebut yaitu sebuah hotel yang akan diperluas sehingga dapat menambah jumlah kapasitas pengunjung. 

Dalam hal ini akan, dilakukan studi kelayakan sebagai penentu untuk tindak lanjut. Dari study kelayakan itulah maka akan terlihat jumlah ekspansi biaya, ekspansi yang akan mengganggu, respon pasar, hukum lokal dan lain sebagainya. Dari data tersebut, maka bisa dilakukan pemetaan untuk melakukan study kelayakan.

Dari study kelayakan akan diketahui bunga investasi serta berapa lama jumlah modal tersebut akan kembali. Selain itu, kondisi pesaing serta lingkungan juga dapat memberikan gambaran berdasarkan hasil study kelayakan. 

Berdasarkan hal tersebut, maka akan semakin jelas peran konsultan feasibility study adalah melakukan pemetaan yang berkaitan dengan akurasi. Oleh karena itu dalam melakukan feasibility study ini sangat dibutuhkan konsultan feasibility study yang berpengalaman. Hal ini disebabkan semakin berpengalamannya konsultan feasibilty study, maka akan semakin sedikit pula deviasi yang akan terjadi.


Sumber :

https://grapadikonsultan.co.id/konsultan-feasibility-study-pengertian-peranannya/

Studi Kelayakan Bisnis

Contoh Studi Kelayakan Bisnis Skala Kecil Sampai Besar

8 November 2019

Contoh Studi Kelayakan Bisnis

Semakin ketatnya persaingan bisnis di Indonesia saat ini membuat banyak orang yang ingin terjun menjadi seorang pebisnis mulai berfikir ulang. Mereka belum yakin apakah ide atau gagasan yang dimiliki bisa mengantarkannya menjadi seorang pebisnis yang sukses atau hanya menambah sederet daftar gagal yang pernah dialami.

Perlu diketahui pula bahwa ide atau gagasan itu bisa jadi hanya angin lalu saja, dalam berbisnis suatu ide atau gagasan harus diuji secara benar dengan studi kelayakan bisnis. Menjalankan feasibility study ini menjadi salah satu syarat wajib sebelum berbisnis.

Dalam berbisnis tidak boleh asal tanpa perhitungan yang jelas, bisa jadi kegagalan menanti Anda di depan. Dan dalam berbisnis jangan sampai karena kurangnya perhitungan yang matang diawal, bisnis yang kita jalankan ternyata tidak diminati dan tidak dibutuhkan oleh konsumen.


Apa itu Studi Kelayakan Bisnis

Feasibility study atau studi kelayakan bisnis adalah suatu kegiatan yang isinya mempelajari secara mendalam tentang kegiatan bisnis atau usaha yang akan dijalankan untuk menentukan apakah layak atau tidak suatu bisnis dijalankan dari berbagai aspek yang mendukung dalam bisnis.

Tujuan utama melakukan studi kelayakan bisnis ini adalah untuk mengukur apakah bisnis bisa berjalan sesuai yang diharapkan atau berhenti ditengah jalan. Memang ada beberapa pebisnis yang tidak menggunakan studi kelayakan bisnis dalam memulai suatu bisnis. Tapi Anda perlu melihat lagi background mereka yang pasti adalah para pebisnis yang sudah berpengalaman dan memiliki insting bisnis yang kuat.

Nah untuk Anda yang baru memulai atau pernah gagal dalam menjalankan suatu bisnis, nampaknya Anda perlu melakukan studi kelayakan bisnis baik itu untuk bisnis skala kecil atau bisa juga untuk bisnis skala besar.


Manfaat Studi Kelayakan Bisnis

Ketika Anda sudah membuat studi kelayakan bisnis secara benar, Anda akan mendapatkan jawaban untuk membuat suatu keputusan yang tepat. Permasalahan terbesar yang banyak ditemui oleh pebisnis yang tidak mau membuat studi kelayakan bisnis ini karena alasan membutuhkan waktu yang lama dan perlu melakukan riset yang mendalam.

Hal inilah yang menjadikan banyak para pebisnis tidak mau melakukan studi kelayakan bisnis, sehingga mereka banyak yang menggunakan prinsip asal jalan saja. Itu semua perlu mulai Anda rubah, nah bagi Anda yang ingin membuat studi kelayakan bisnis, kami sudah menyiapkan contoh studi kelayakan bisnis baik bisnis skala kecil, menengah dan besar.


Contoh Studi Kelayakan Bisnis

Dalam studi kelayakan bisnis, ada beberapa aspek yang perlu Anda tinjau, tetapi untuk bisnis satu dengan yang lainnya akan memiliki aspek yang berbeda-beda tergantung dari kebutuhan. Nah berikut aspek-aspek dalam studi kelayakan bisnis:

  • Aspek legalitas
  • Aspek ekonomi
  • Aspek budaya
  • Aspek manajemen
  • Aspek lingkungan
  • Aspek pemasaran
  • Aspek teknis dan teknologi
  • Aspek finansial
  • Aspek sumber daya manusia

Perlu dicatat kembali bahwa tidak perlu semua aspek diatas kita munculkan dalam contoh studi kelayakan bisnis perusahaan. Namun ada beberapa hal penting sesuai dengan jenis bisnis yang perlu kita masukan kedalam proposal studi kelayakan bisnis, berikut contoh studi kelayakan bisnis sederhana:


Studi kelayakan panel surya

Dalam penerapan studi kelayakan bisnis pada penggunaan panel surya contohnya, aspek lingkungan tidak perlu ditinjau karena memang tidak ada efek yang mengancam terutama pada lingkungan.

Namun dari segi pemasaran apakah sudah banyak pengguna listrik yang teredukasi dengan adanya panel surya dan dari segi segmentasi apakah harga yang ditawarkan sudah sesuai dengan semua market atau hanya menyasar kalangan atas saja? Jika dari contoh studi kelayakan bisnis tersebut hanya mendapatkan tidak lebih dari 5 persen dari target apakah masih berpotensi untuk dilanjutkan?


Studi kelayakan bisnis properti

Beda sektor bisnis pastinya akan berbeda tantangannya. Dalam hal bisnis properti tentunya target market sangat besar, tetapi perlu dipertanyakan bisnis perumahan yang akan Anda jual memiliki range harga berapa dan lokasinya dimana. Tidak mungkin kalau Anda membangun bisnis properti berada didaerah pinggiran yang kebanyakan penduduknya adalah petani.

Selain itu dari segi aspek legalitas, Anda perlu menanyakan perihal status tanah tersebut apakah sudah legal untuk dimiliki? Dari mana modal awal untuk membangun bisnis properti? Dan lain sebagainnya.


Studi kelayakan bisnis minuman

Bisnis minuman sekarang ini sudah menjamur diberbagai tempat, salah satunya kopi. Tetapi sebelum Anda ikut menjadi pebisnis minuman kopi, pastikan dulu aspek lingkungannya apakah sudah sesuai dengan target market Anda seperti anak muda, mahasiswa dan pelajar atau tidak? Dari aspek pemasaran bagaimana strategi yang akan Anda lakukan karena sudah ada banyak bisnis sejenis yang berada disekitar Anda.


Sumber :

https://qwords.com/blog/contoh-studi-kelayakan-bisnis/

Thursday, November 12, 2020

SOP dan Work Instruction

Seringkali kita mendengar istilah SOP (Standard Operating Procedure) dan WI (Work Instruction) didalam sistem manajemen mutu dan kadangkala kesulitan membedakan diantara keduanya. Persamaan pengertian SOP dan WI merupakan suatu panduan (pedoman) yang menjelaskan mengenai kegiatan atau proses itu dilakukan (dilaksanakan), sedangkan yang membedakan adalah SOP lebih luas ruang lingkupnya dan menggambarkan banyak aktifitas dari suatu proses sedangkan untuk WI merupakan petunjuk atau cara dalam melakukan satu jenis aktifitas.

SOP atau Standar Operasional Prosedur adalah pedoman atau acuan untuk melaksanakan tugas pekerjaan sesuai dengan fungsi dan alat penilaian kinerja atau dengan kata lain SOP adalah suatu panduan yang menjelaskan secara terperinci bagaimana suatu proses harus dilaksanakan. SOP biasanya tidak saja bersifat internal tetapi juga eksternal.

Tujuan dari SOP adalah menciptakan komitment mengenai apa yang dikerjakan oleh satuan unit kerja di satu organisasi.

Working Instruction/WI atau Instruksi Kerja adalah: tata cara dalam melakukan satu jenis aktifitas, misalnya dalam melakukan wawancara detail yang dikerjakan.

Perbedaan antara SOP dan WI adalah dari kompleksitas aktifitasnya, kalau SOP menggambarkan pengendalian banyak aktifitas dari suatu proses, misalnya SOP Produksi, sedangkan WI hanya merupakan petunjuk atau tata cara dalam melakukan satu jenis aktifitas, misalnya WI untuk pengemasan Produk ABC, WI dalam proses interview yang merupakan turunan dari SOP Recruitment & Selection.

SOP biasanya menggambarkan flowchart hubungan antar proses/aktifitas, misalnya untuk prosedur produksi, salah satu input dari prosesnya adalah hasil atau keluaran  dari proses distribusi barang mentah, dan keluaran/output dari proses produksi menjadi input dari SOP pengemasan/pengepakan (misalnya).

Sedangkan  instruksi kerja menceritakan deskripsi teknis dari suatu  aktifitas misalnya instruksi kerja mesin percetakan dimana instruksi itu menggambarkan urut-urutan, mulai dari menyalakan  tombol sampai mesin itu bekerja sampai dengan selesai atau cara mematikan mesin.

Sebagai gambaran pada industri manufacture ada kegiatan dari mulai penerimaan bahan baku, pengolahan dan pengemasan produk. Untuk menjelaskan kegiatan tersebut maka dibuat SOP, salah satunya SOP pengemasan yang memuat mengenai alat, bahan dan aktifitas. Lalu untuk menjelaskan detail pelaksanaan SOP tersebut dibuatlah WI atau intruksi kerja misalnya ada aktifitas mesin kemas maka dibuat WI mesin kemas yang memuat urutan dari mulai menghidupkan mesin, mesin bekerja sampai mematikan mesin.

Di bawah alur tahapan pada sistem manajemen mutu sebagai berikut :

Tahapan akhir dari WI adanya form record atau laporan yang memuat kegiatan dari aktifitas yang telah dilakukan. Adanya form ini akan memudahkan dalam melakukan monitoring atau evaluasi terhadap aktifitas. Disamping itu juga laporan kegiatan akan memberikan manfaat pada traceability (penelusuran) apabila ada permasalahan yang muncul diakibatkan karena kesalahan proses.


Sumber :

https://bestpracticesindustrial.wordpress.com/2014/06/07/perbedaan-sop-dan-wi/

http://businessshownet.blogspot.com/2013/04/bls-bls-hrm-club-bedanya-sop-dan.html

Wednesday, September 30, 2020

Integrated Performance Measurement System

A fully integrated approach is now considered a standard approach to performance measurement; especially with the advent of the Balanced Scorecard. An integrated approach recognizes that measurement should be process oriented and cut across functional areas. It also recognizes that a balanced set of measures, both financial and non-financial, is needed for a complete picture of what is going on.

The best types of measurements provide more than score keeping; they help you understand what changes are needed to improve the score. Good measurements usually start with the core competencies of the organization. By focusing on core competencies, you are measuring the strategic areas that give the organization a competitive foothold in the marketplace.

Typically a set of performance measurements will rely on Key Performance Indicators (KPI's). The best KPI's tend to be simple. Here is an example of KPI's at General Electric:


Performance Area Key Performance Indicator

  1. Profitability Residual Income
  2. Productivity Output
  3. Human Resources Number of Promotable Employees
  4. Market Position Market Share

As you can see from this example, the primary drivers behind performance are very visible within the performance measurement system. Areas that are selected for measurement are critical to the business. Therefore, the best place to start in the design of an Integrated Performance Measurement System (IPMS) is by simply understanding how the organization works. Based on this understanding, strategic themes emerge to help you identify what areas of the business should be measured. The objective behind the design phase of the IPMS is to come up with a set of KPI's that are both measurable and reportable.

The design phase of the IPMS should be both top-down and bottom-up. The top view is needed to help ensure that design is based on major strategic issues confronting the organization. The bottom-up view is needed since you need to identify barriers and issues that must be resolved for implementation of the IPMS. The preliminary design of the IPMS will often consist of eight steps:

  1. Executive Management buy-in and support for the IPMS.
  2. Forming the Design and Implementation Team(s).
  3. Developing a clear and concise set of strategies.
  4. Drafting a prototype model for testing and refinement of the IPMS.
  5. Defining the Critical Success Factors or Areas that need to be measured.
  6. Defining the Key Performance Indicators that will serve as the measurements.
  7. Finalize the Prototype Model.
  8. Develop a plan for full implementation.

The biggest reason behind failure of a performance measurement system is lack of senior management support. In order to gain management support, an "ABO" approach is sometimes useful:

Awareness : Management shows an interest in the project, learns more, and becomes passively involved.

Buy-In : Management now seeks more information, they commit time and money to the project, and they openly support the idea behind performance measurement.

Ownership : Management assumes responsibility for success of the project, they recruit people to participate, and they sell others on the idea of performance measurement.


Once you have ABO from upper-level management, you can proceed to Step 2, forming a design and implementation team. Since the IPMS cuts across the entire organization, the team should have representation from areas that will be measured. For example, a beverage company has identified marketing and production as critical areas that need to be measured. The design team consists of five key people: Marketing Manager, Sales Manager, Operations Manager, Quality Control Manager, and Chief Financial Officer.


This article has touched on the very basics of trying to get a comprehensive performance measurement system started. A very important aspect with any project like performance measurement is to spend sufficient time with planning and design. One of the biggest mistakes with most projects is to move too quickly into implementation. A good IPMS should evolve through a process of planning and design. And don't forget to prototype test each and every idea within the IPMS. This will save a lot of grief down the road when it comes time to implement.


Sumber :

https://exinfm.com/board/integrated_performance_measurement.htm

Related Posts