Tuesday, September 29, 2020

Implementasi Lean Manufacturing

Oleh : Adi N.


Sebagai overview saja, berikut ini gambaran global sistem manufacturing disain.

Sistem manufacturing ini didisain secara integrated, terdiri dari 6 modul utama dan 1 modul juklak secara umum. Modul tersebut meliputi disain manufakturing, maintenance systems, organisasi area kerja, lingkungan dan keterlibatan karyawan, elemen quality, pergerakan material, dan petunjuk umum. Sistem audit yang dilakukan untuk mengontrol implementasi dilakukan dengan interval waktu tertentu. Proses audit hampir mirip dengan audit proses, dan cukup berbeda dengan audit quality system.

Kontrol terhadap performance dilihat dari pencapaian target yang bisa ditrace pada catatan metrik. Catatan, audit adalah kontrol terhadap implementasi sistem. Di luar itu, perlu didevelop strategic planning untuk membuat seluruh aktivitas tersebut terimplementasi secara keseluruhan. Strategic planning dilakukan secara top down force dan melakukan breakdown sekecil mungkin. Untuk melakukan budaya perbaikan, maka perlu dibentuk pula policy dari organisasi (company) agar membuat sistem bottom up dengan mekanisme yang terkontrol sehingga tidak melenceng dari strategic planning dan goal tersebut.

Definitely, keberhasilan dalam mencapai Lean Manufacturing tersebut sangat tergantung dari leadership, knowledge dan konsistensi kontrol terhadap performance.

Secara umum, apa yang disampaikan di atas adalah main body dari Lean Mfg. Sistem ini didisain terintegrasi sehingga setiap item yang tidak terkait langsung dengan mfg tetap dimasukkan karena sebagai faktor pendukung untuk membentuk lean enterprise. Sistem ini terdiri dari 7 bagian yakni:

  1. Flow Manufacturing System Design
  2. Employe Environment and Involvement
  3. Workplace Organization
  4. Operational Avalaibility
  5. Material Movement
  6. Quality
  7. Implementation Guide

Ketujuh item di atas tidak bisa dipisah satu sama lain, interdependent element. Pembagian tersebut adalah untuk memudahkan pelaksanaan. Sebagai contoh pada disain proses manufacturing harus sudah memperhitungkan semua aspek non teknis engineering seperti efisiensi budget, ergonomis, training, visual kontrol, dan lain sebagainya. Berikut ini overview dari masing-masing item.


Flow Manufacturing System Design

Sesuai namanya, sistem ini didisain untuk membentuk disain manufacturing dengan flow base. Konsepnya ada di process flow. Perhitungan dimulai dari permintaan jumlah barang dari customer Disain cycle time diperoleh dengan menentukan kecepatan produksi yang lebih cepat dari kecepatan konsumsi customer.

Besarnya kecepatan ini tergantung dari perkiraan permintaan selama setahun, fluktuasi, policy dan kemampuan tools dan equipment dan terakhir adalah budget. Hasil dari disain ini antara lain proses flow, lay out, manufacturing sequence, disain pull system, disain pergerakan material, ergonomis, inventory, jumlah resources, skedul proyek, jumlah kebutuhan tools dan equipment, pemilihan mesin, metode kerja, value stream, danperhitungan finansial. Secara umum, disaini inilah yang dianggap sebagai core dari manufacturing system.


Employee Environment & Involvement

Sistem ini berkaitan dengan seluruh human resources. Sub-sub elemennya antara lain adalah Belief & Value yang berkaitan dengan visi dan misi perusahaan, Multiple Skill, Suggestion System, Natural Workgroup (sejenis QCC), Training, Health & Safety, Standard Manufacturing Leadership dan lain-lain. BV berkaitan dengan konsep moral, training & multiple skill berkaitan dengan kompetensi, NWG atau QCC dan SS berkaitan dengan keterlibatan karyawan terhadap kebijakan perusahaan dan improvement, H&S saya pikir no issue, dan SML berkaitan dengan kontrol terhadap resource performance serta pelaksanaan target dan kebijakan perusahaan.


Workplace Organization

Yakni organisasi area kerja, lebih terkait kepada pembentukan sikap dan moral dan kontrol terhadap proses produksi yang kondusif. Organisasi ini lebih dikenal dalam bentuk 5S, tetapi di kami istilahnya terjemahan dalam bahasa Inggris. Sub element lainnya adalah andon system, addressing system, organisasi area kerja di office, dan sistem komunikasi perusahaan.


Operational Availability

Item ini berkaitan dengan planned maintenance systems, yakni kontrol terhadap peralatan, quick response, change over dan performance machine secara keseluruhan. Selain itu juga didevelop sistem dimana keterlibatan karyawan produksi dalam melakukan maintenance peralatan.


Material Movement

Lebih detail mengenai sistem pull, levelling schedule, build to plan, production planning, warehouse, pergerakan material, sistem supply material ke area produksi, plan for every part, visual control untuk mengatur storage, common lot theory untuk meminimasi part built up di antara proses produksi/operasi. Item ini termasuk yang mengambil porsi sistem cukup besar selain disain manufacturing.


Implementation Guide

Implementation Guide ini lebih banyak berisi tentang petunjuk pelaksanaan untuk mendevelop strategic planning. Site plan dijadikan sebagai master pelaksanaan yang didasarkan kepada objektif perusahaan. Seluruh strategic planning bisa didevelop berdasarkan perkembangan bisnis, policy dan target-target spesifik perusahaan.

Value stream management & audit digunakan sebagai alat untuk melakukan proses kontrol. Selain itu, ditentukan scientific methodlogy untuk melakukan innovation & continuous improvement. Dalam contoh aktual adalah penggunaan Suggestion System untuk improvement perorangan,

Natural Workgroup yang dibekali dengan 8 Step 7 Tools untuk improvement kelompok, dan 6 Sigma sebagai alat improvement dan innovation. Secara strategis, value stream dibagi ke beberapa bagian sesuai dengan jenis project/business, dan ketiga hal di atas berada dibawah payung value stream untuk mencapai lean manufacturing.


Value stream & audit dikontrol secara periodik oleh manajemen.

Sejatinya, informasi di atas menggambarkan overview saja. Sebagai tambahan, untuk proses auditnya tidak seperti quality sistem audit, tetapi menggunakan merit system sehingga grade sebagai tolok ukur.

Besarnya target grade ditentukan oleh company. Misalnya target grade 3.5.

Tuesday, September 22, 2020

KONSEP BALANCED SCORECARD

DASHBOARD MANAGEMENT DALAM KONSEP BALANCED SCORECARD

Di dalam konsep balanced scorecard, dijelaskan bahwa balanced scorecard menyelaraskan antara visi, misi dan strategi perusahaan dengan aktivitas bisnis di dalam perusahaan. Konsep balanced scorecard yang diperkenalkan oleh Kaplan dan Norton, juga menjelaskan bahwa komunikasi antara ekternal dan internal perusahaan harus berjalan selaras. Balanced scorecard juga dapat digunakan sebagai performance monitor dalam sebuah perusahaan.

Tujuan utama dari balanced scorecard adalah menyeimbangkan antara dua faktor sebab dan akibat. Maksud dari tujuan ini adalah menyeimbangkan antara apa yang dilakukan internal perusahaan untuk mencapai hasil yang diharapkan baik dari segi keuangan (Financial) maupun hal lainnya seperti loyalitas pelanggan (Customer). 

Dari konsep balanced scorecard, visi, misi dan strategi perusahaan diterjemahkan ke dalam perspektif-perspektif financial, customer, internal business process dan learning and growth atau organizational capacity. Perspektif-perspektif ini kemudian digambarkan ke dalam peta strategi.

Peta strategi ini akan berisi mengenai sasaran-sasaran yang ada beserta pengukurannya menggunakan Key Performance Indicator (KPI). Dibawah ini merupakan contoh dari peta strategi beserta dengan pengukuran KPI untuk setiap strategy objective-nya.

Pada saat perusahaan akan melakukan review balanced scorecard, maka dibutuhkan banyak file peta strategi untuk perusahaan tersebut. Dari peta-peta strategi dari seluruh bagian di dalam perusahaan akan diturunkan menjadi Individual Scorecard atau ISC. ISC ini dapat menjadi penilaian per individu di dalam perusahaan. Masalah yang timbul dari dalam perusahaan adalah dengan jumlah pegawai yang banyak dan diperlukannya penilaian individu bagi setiap orang. Dalam melakukan perhitungan nilai-nilai dari setiap KPI tersebut akan memerlukan waktu yang panjang untuk melakukan pengecekan dan perhitungan untuk setiap individu. Salah satu cara untuk menangani permasalahan tersebut adalah dengan menggunakan dashboard management.

Dashboard management pada dasarnya adalah sebuah alat yang dapat digunakan untuk membantu memantau performa perusahaan di tingkat korporasi, departemen atau divisi dan kepada setiap individu.

Dengan adanya otomatisasi dari balanced scorecard, diharapkan penggunaan konsep balanced scorecard dapat menjadi lebih maksimal. Selain itu kehandalan dari dan konsistensi dashboard management harus dapat diandalkan karena menyangkut nilai performa perusahaan yang kompleks.

Fungsi-fungsi yang sebaiknya dimiliki oleh software dashboard management adalah pertama, kemampuan sistem telusur. Kemampuan ini diperlukan untuk mencari tahu penyebab bagus atau buruknya sebuah KPI. Dengan kemampuan untuk menelusur, perusahaan dapat lebih terkendali dalam control internal di dalam perusahaan. Kedua adalah kemampuan untuk mengeluarkan informasi yang akurat dan bisa dipercaya. Software atau alat ini harus dapat memberikan informasi yang informatif dan mampu memberikan kejelasan dan keakuratan informasi. Hal ini penting karena pimpinan perusahaan akan menggunakan informasi ini untuk menentukan strategi apa yang digunakan untuk mengahdapai kondisi yang ada. Ketiga, alat ini harus dapat menampilkan data secara realtime dan terupdate pada saat terjadinya perubahan. Kemudian dapat memberikan peringatan kepada pengguna bila pencapaian sudah tidak sesuai dengan target yang ditetapkan.

Dengan adanya dashboard management software, maka diharapkan pengambil keputusan strategis dapat membuat keputusan secara tepat dan cepat. Hal ini didasarkan kepada data-data yang akurat dan terpusat. Data-data actual dan terupdate dapat diakses langsung dan mendukung lancarnya aliran informasi di dalam perusahaan.


Sumber :

http://ccg.co.id/blog/2018/02/21/konsep-balanced-scorecard-2/

METODE PENGUKURAN KINERJA

Menurut Wibowo (2008), kinerja memiliki pengertian yang berasal dari kata performance. Pengertian dari performance yaitu hasil kerja ataupun prestasi kerja. Namun, kinerja sesungguhnya memiliki pengerian yang lebih luas, tidak hanya hasil kerja, tetapi juga bagaimana suatu proses kerja berlangsung hingga memberikan suatu hasil. Armstrong dan Baron dalam Wibowo (2008) pun menyatakan pendapata bahwa kinerja merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan dengan tujuan strategis organisasi, kepuasan konsumen dan memberikan kontribusi pada ekonomi. Kinerja memiliki dua dimensi, yaitu (i) indicator yang berkaitan dengan pertumbuhan dalam bisnis yang ada dan (ii) indicator yang berkaitan dengan posisi perusahaan di masa akan datang.

Pengukuran kinerja (performance measurement) adalah suatu proses penilaian peningkatan pekerjaan terhadap tujuan dan sasaran yang telah ditentukan sebelumnya oleh perusahaan. Stefan Tangen dalam Engelbert Christian (2010) menyatakan bahwa sistem pengukuran kinerja yang baik adalah sekumpulan ukuran kinerja yang menyediakan perusahaan dengan informasi yang berguna sehingga membantu mengelola, mengontrol, merencanakan dan melaksanakan aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan. Berikut ini terdapat beberapa metode pengukuran kinerja.


1. Balanced Scorecard (BSC)

Balanced Scorecard dikembangkan oleh Kaplan (1992) dan Norton (1996) dengan berpandangan kepada empat perspektif., yaitu : (i) perspectif keuangan, (ii) perspektif pelanggan, (iii) perspektif internal, dan (iv) perspektif pembelajaran dan pertumbuhan. BSC bukan merupakan daftar pengukuran statis, melainkan sebuah kerangka logis untuk melaksanakan dan menyelaraskan program-program yang berfokus pada strategi. Scorecard menerjemahkan visi dan strategi unit bisnis ke dalam tujuan dan ukuran di empat perspektif yang berbeda.


2. Performance Pyramid System (PPS)

PPS adalah sebuah sistem yang saling terkait dari variable kinerja yang berbeda, yang dikontrol pada tingkat organisasi yang berbeda. Tujuan dari kinerja piramida adalah link suatu strategi organisasi dengan operasi-operasi dengan menerjemahkan tujuan-tujuan dari atas ke bawah (prioritas pelanggan) dan pengukuran dari bawah ke atas. Pengukuran kinerja ini mencakup empat tingkat tujuan yang membahas efektivitas organisasi eksternal (sisi kiri piramida) dan efisiensi internal (sisi kanan piramida).

Lynch dan Cross (1992) menyatakan bahwa kinerja piramida berguna untuk menggambarkan bagaimana tujuan dikomunikasikan sampai ke tingkat operasional dan bagaimana langkah-langkah yang disampaikan kembali ke tingkat yang lebih tinggi. Kekuatan utama PPS adalah usahanya untuk mengintergrasikan tujuan-tujuan perusahaan dengan indokator kinerja operasional. Namun, pendekatan ini tidak menyediakan mekanisme untuk mengidentifikasi indicator kinerja kunci dan juga tidak secara eksplisit mengintegrasikan konsep perbaikan terus-menerus.


3. The Tableau de Bord (TdB)

Metode ini pertama kali dikembangkan oleh para insinyur yang sedang mencari cara untuk meningkatkan proses produksi mereka dengan pemahaman yang lebih baik. Metode ini pertama kali diperkenalkan di Perancis pada tahun 1930-an. Menurut Epstein dan Manzoni, tujuan awal ini yang memberikan manajer uraian dan parameter kunci untuk mendukung pengambilan keputusan yang memiliki dua implikasi penting. Pertama, TdB tidak dapat menjadi dokumen tunggal yang berlaku sama baik untuk seluruh perusahaan karena setiap sub-unit memiliki tanggung jawab dan objektif yang berbeda. Ini menyebabkan harus adanya TdB untuk setiap sub-unit. Kedua, berbagai TdBs yang digunakan dalam perusahaan tidak boleh terbatas pada indikator-indikator keuangan.

Kelemahan terbesar yang mungkin berasal dari TdB adalah struktur yang tidak terdefinisikan. Hal ini dikarenakan kurangnya daerah kerja yang ditetapkan. Risiko yang dapat terjadi yaitu manajer melaksanakan TdB dengan seperangkat indikator kinerja yang tidak seimbang dalam hal keuangan dan non-keuangan, lead dan lag, strategis dan operasional dan terkait dengan efektivitas dan efisiensi.


4.  Productivity Measurement and Enchancement System (ProMES)

ProMES dikembangkan oleh Pritchard pada awalnya. ProMES didasarkan pada teori perilaku kerja. Dalam teori ini, motivasi dipandang sebagai suatu proses alokasi sumber daya ke seluruh tindakan dan tugas, dimana sumber daya tersebut adalah waktu dan tenaga seseorang. Pritchard dan kawan-kawannya menyatakan bahwa kekuatan motivasi seseorang adalah hasil dari tindakan, produk, evaluasi, hasil dan terpenuhinya kebutuhan orang tersebut. Sistem ProMES dapat dikembangkan dan diimplementasikan dengan tujuh langkah sebagai berikut :

Membentuk tim desain yang terdiri dari orang-orang yang akan diukur, pengawas dan fasilitator yang mengerti ProMES

Identifikasi tujuan untuk unit.

Mengidetifikasi salah satu ukuran lebih kuantitatif (indikator) untuk setiap tujuan yang ditetapkan.

Menetapkan kemungkinan.

Desain sistem umpan balik.

Menanggapi umpan balik.

Memonitoring proyek dari waktu ke waktu.


Salah satu fitur yang paling menarik dari ProMES adalah pendekatan bottom-up. Namun, pendekatan ini juga memiliki kekurangan yaitu bahwa konsistensi vertikal tidak dapat diterima begitu saja yang dapat mengakibatkan pengukuran kinerja unit bisnis tidak sejalan dengan pengukuran kinerja perusahaan. Kelemahan dari ProMES adalah bahwa indikator tidak harus selalu diimbangi jika tujuan tidak seimbang.


5.  Activity-Based Costing (ABC)

Johnson dan Kaplan telah mengembangkan sebuah pendekatan untuk akuntansi biaya pada tahun 1980-an yang disebut activity-based costing (ABC). Teknik dasar ABC adalah untuk menganalisis biaya tidak langsung dalam perusahaan dan untuk menemukan kegiatan yang menyebabkan biaya-biaya tersebut. Menurut Maskell, beberapa contoh kasus menunjukan bahwa metode ABC dapat digunakan untuk menilai harga produk, pengambilan keputusan produksi, pengurangan biaya overhead dan peningkatan berkesinambungan.


6. Sink and Tuttle

Metode pengukuran kinerja Sink and Tuttle adalah sebuah pendekatan klasik yang menyatakan bahwa kinerja suatu organisasi memiliki keterkaitan yang rumit antar tujuh kriteria kinerja. Ketujuh kriteria kerja tersebut, antara lain :

Efektivitas

Efisiensi

Kualitas

Produktivitas

Kualitas kehidupan kerja

Inovasi

Profitabilitas/ budgetability


7. Theory of Constrains

TOC dikembangkan oleh Goldratt pada pertengahan tahun 1980-an sebagai suatu proses perbaikan yang berkelanjutan. TOC dilakukan dengan cara sebagai berikut :

    Mengidentifikasi kendala sistem

    Memutuskan bagaimana memanfaatkan sistem kendala

    Tidak memprioritaskan segala sesuatu yang lain di atas keputusan.

    Meningkatkan sistem kendala

    Ketika sebuah kendala rusak, kembali ke langkah (1)

    

    Dalam pengukurannya, TOC digunakan untuk menilai kemampuan bisnis suatu organisasi. Pengukuran global metode TOC yaitu laba bersih, ROI dan Cash Flow. Keuntungan dari metode ini yaitu metode ini mudah untuk diakses dan dipahami. Namun, metode TOC dinilai masih kurang lengkap untuk melakukan pengukuran kinerja.

Beberapa metode yang telah dijabarkan di atas merupakan sebagian besar metode pengukuran kinerja yang telah berlaku dan diterapkan sebelumnya. Seiring dengan perkembangan zaman, metod pengukuran kinerja pun dapat terus bekerja. Pada dasarnya, tidak ada metode pengukuran yang dapat dinilai sebagai metode yang paling tepat dan benar. Hal ini dikarenakan setiap perusahaan memiliki focus, ruang lingkup dan lingkungan yang berbeda satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, setiap pemimpin perusahaan dapat menggunakan metode pengukuran kinerja yang sesuai dengan perusahaan dan perkembangan zaman.


Sumber :
http://ccg.co.id/blog/2016/05/17/metode-metode-pengukuran-kinerja/

Sunday, September 20, 2020

Teknik Sistem dan Industri

Barometer Dunia Teknik Sistem dan Industri di Indonesia

The focus of industrial engineering is on designing, upgrading, and installing integrated systems that require the role of people, materials, equipment and energy.

Teknik sistem dan industri merupakan gabungan ilmu keteknikan dan ilmu sosial atau manajemen. Di departemen ini, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) akan mempelajari cara merancang, mengelola, dan menerapkan semua elemen industri, seperti manusia, mesin, metode, material, dan lingkungan menjadi sistem yang berkaitan dengan fungsi pabrik. 

Fokus Teknik industri adalah pada perancangan, peningkatan, dan pemasangan sistem terintegrasi yang membutuhkan peran manusia, material, peralatan dan energi.Program Studi Teknik Industri ITS berdiri tahun 1985, sebelum berubah menjadi Departemen Teknik Industri pada tahun 1996. 

Di tingkat nasional, Departemen Teknik Industri ITS telah berhasil memperoleh akreditasi A dari BAN-PT. Sedang secara internasional, Departemen ini juga telah mendapat akreditasi dari AUN QA di tingkat ASEAN dan ABET (Accredited Board of Engineering and Technology) dari Amerika Serikat. Departemen TI ITS menjadi salah satu jurusan teknik industri terbaik di Indonesia. 

Lebih dari 30 staf pengajar dengan berbagai bidang keahlian seperti ergonomi, sistem manufaktur, sustainable manufacture, optimasi, simulasi, data mining, logistik, supply chain, manajemen kualitas dan pengukuran kinerja menjadikan Departemen TI ITS sebagai barometer utama teknik industri di Indonesia.

Iklim internasional sangat terasa di TI ITS. Hal ini karena Departemen ini membuka program sarjana (S1) internasional dengan bahasa pengantar bahasa Inggris. Beberapa peserta kuliah baik sarjana dan pasca sarjana berasal dari berbagai negara seperti Irak, Zimbabwe, Papua Nugini, Thailand dan Myanmar. 

Hal ini membuat mahasiswa dapat terlibat dalam berbagai pengalaman global dan menjadi motor kegiatan internasionalisasi di ITS.Jumlah alumni telah mencapai lebih dari 1000 orang yang tersebar diberbagai sektor industri nasional maupun Internasional. 

Lulusan juga bisa mengambil peran beberapa fungsi di industri seperti divisi spesialisasi teknik industri, divisi produksi, divisi engineering, divisi perencanaan biaya, bahkan divisi HRD. 

Salah satu alumni Departemen Teknik Industri, Fajar Hutomo, ST. MMT kini telah menjadi ketua Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) yang menjadi mesin utama perkembangan industri kreatif di Indonesia.


Sumber :

https://www.its.ac.id/id/kuliah-di-its/fakultas-dan-departemen/fakultas-teknologi-industri/teknik-industri/

Sunday, August 23, 2020

Key Performance Indicators (KPI)


“You can’t improve what you can’t measure”.

Key Performance Indicators (KPI) are vital to understand and improve any process in industrial applications and pretty much everywhere else in day to day life.

Tuesday, August 11, 2020

Just in Time Training

Just in Time Training Is the Future of Learning. Have You Embraced It?

   
Workplace learning methodologies have changed. You can no longer expect your employees to learn everything in advance on the pretext that such learning may be required primarily because jobs these days are pretty demanding.

Now, workers consistently face new problems and challenges which they need to solve urgently. This is where Just in Time Training can help.

This training methodology is an evolutionary response to the demands of a knowledge-driven and speed-oriented marketplace. It emphasizes the value of time.

According to CEB Research, 57% of employees expect learning to be “just in time” rather than earlier. This shows why such learning methodologies are gaining popularity.

So, let’s try to understand the details of Just in Time Training, including why you should care about it and how to implement the training methodology.


What Is Just in Time Training?

The Just in Time Training methodology provides personalized on-demand training according to what a specific situation requires. It uses AI, machine learning, Big Data, and advanced analytics to enhance workforce performance, while significantly reducing errors.

Workers learn all the information they require just when they need it to accomplish a task. With Just in Time Training, your employees can plug knowledge holes fast and prepare themselves for the task at hand in no time.

It works best with the latest technologies like mobile learning whereby learning solutions are distributed to the workers’ mobile devices through a learning management system and a mobile learning app.


Why Is Just in Time Training Important?

Just in Time Training enhances worker productivity. One of the primary goals of the methodology is to provide real-time performance support so that workers can perform their jobs optimally by getting access to tips and solutions just when they need them.

For example, in sales, Just in Time Training is providing sales representatives with the insights, tools, and information needed to more effectively engage with prospects.

According to Forrester, B2B buyers think that 80% of sales representatives add no value and are unsatisfied with their engagements with sellers. This is because buyers expect an individualized purchase process and want solutions that are tailor-made to their unique challenges and priorities.

Just in Time Training can equip your sales representatives with the right content, messaging, and sales strategies to deal with the needs of each buyer.

But you have to remember that your field sales representatives cannot access a large amount of training content when they are in the field.

First, they have to meet as many prospects as possible each day. Second, they only have a few minutes to prepare before each meeting.

So, you have to find a solution to the traveling salesman problem.

You can use a sales territory mapping software that offers advanced route optimization capabilities to help plan 100% accurate routes.

With the most efficient routes available to your sales representatives, they’ll be able to visit more prospects every day. This means they can close more deals and make more money rather than getting stuck in nasty traffic. It will keep your remote salesforce motivated and on task.


Also, with territory mapping software, you can improve fuel efficiency and reduce transportation costs. So, it’s a complete win.

To top it all of, the best sales routing apps also improve market coverage and provide better sales data.

For example, a sales route planner comes with an interactive map that shows where you are performing well and where you are not.

A route planner for sales reps also offers a color-coding feature so you can segment your cold and hot leads by using colors. In this way,  you can focus your resources where they are most needed.

All such data will help you create bite-sized training on the go for your sales representatives that will make them more efficient. They will be better able to deal with the leads and convert them into clients.


There are more reasons why you should go for Just in Time Training, including the following:

Helps create more engaged employees.
Optimizes knowledge retention.
Improves learner access to knowledge.
Makes the learning process faster.
Provides accessible training on the move.


How to Apply Just in Time Training Successfully?

To apply this training methodology, you’ll need to know the sort of information your workers require on the spot.

For example, if you are in the delivery industry and use a route optimization software, you should take advantage of the integrated GPS tracking feature. This will indicate whether your drivers are driving safely as well as their strengths and weaknesses are.

This is all possible as the GPS tracker will show you the real-time location of your drivers and whether anyone in the fleet is speeding, braking harshly, turning too fast or engaging in road rage. You can then immediately communicate to ensure they drive safely. With a commercial GPS tracker, you will also be able to make sure that they are not wasting company time.


Getting all the information you need will help you devise the most suitable training program for your drivers. Just in Time Training is more flexible than regular training programs, recognizing that all your drivers don’t need access to the same information at the same time. It also takes into consideration that some drivers don’t require much training, while others do.

You can have a comprehensive driver training program in place based on the Just in Time Training methodology that tracks the behavior of each of your drivers and then automatically assigns personalized lessons based on the mistakes that they make on the road.

These lessons should follow industry standards and the rules that you have set. Make sure you allow the courses to be taken on any laptop, tablet, or any mobile device.

Below is a quick rundown of the other tactics you can use to apply Just in Time Training at your workplace:

Develop an active learning culture.
Make sure your training materials are easy to understand.
Organize the categories of learning to consolidate your ideas.
Back up every learning module with examples and scenarios.
Create a detailed road map of your training content.
Create a microlearning online resource library.

Final Thoughts
Just in time training allows your workers to access relevant information at a moment’s notice. Though the methodology is still in its infancy, it has already begun to feel like a necessity.


Sumber :
https://blog.route4me.com/2020/08/just-time-training-future-learning-embraced/

Tuesday, July 14, 2020

Manajemen Rekayasa vs Teknik Industri

Sering muncul kerancuan antara jurusan manajemen rekayasa, teknik industri, dan manajemen bisnis. Sebenarnya, ketiganya berbeda lho!

Berbedanya dimana?


Manajemen Rekayasa vs Teknik Industri
Manajemen Rekayasa berfokus untuk menghadapi perubahan dalam lingkungan dan teknologi melalui inovasi produk.
Teknik Industri berfokus untuk merancang sistem yang beroperasi secaea efektif dan efisien.

Manajemen Rekayasa vs Manajemen Bisnis
Manajemen Rekayasa menggunakan ilmu manajemen untuk membantu proses inovasi produk agar dapat dikomersialisasikan.
Manajemen Bisnis berfokus pada isu manajemen dan bisnis secara umum, etika bisnis, komunikasi, dan hukum yang berkaitan.

Manajemen Rekayasa bertugas merancang dan fokus pada:
1. Rancangan produk
2. Riset pasar
3. Rancang proses, bisnis, organisasi
4. Sampai perancangan teknologi yg diperlukan

Manajemen Rekayasa berfokus untuk menghadapi perubahan dalam lingkungan dan teknologi melalui inovasi produk. Manajemen Rekayasa memanfaatkan ilmu manajemen untuk membantu proses inovasi produk agar dapat mencapai tahap komersialisasi
Di sisi lain, Teknik Industri berfokus untuk merancang sistem yang dapat beroperasi secara efektif dan efisien.
Sedangkan Manajemen Bisnis berfokus pada isu manajemen dan bisnis secara umum, etika bisnis, komunikasi, serta hukum yang berkaitan

Peran Manajemen Rekayasa : meneliti kondisi pasar dan kebutuhan konsumen, kemudian mengembangkan konsep produk sesuai kebutuhan
Peran Teknik Industri : merancang sistem produksi produk agar bisa beroperasi secara efektif dan efisien
Peran Manajemen Bisnis : mengelola bisnis agar beroperasi dengan lancar dan menghasilkan keuntungan bagi perusahaan

Manajemen Rekayasa berfokus sebagai inisiator, sedangkan Teknik Industri yang mengefisienkan.


Sumber :
https://www.instagram.com/p/CClgv_MseZ7/?igshid=1ektpfn7av4fj

Related Posts